Headlines News :
Showing posts with label Karya Tulis dan Penelitian. Show all posts
Showing posts with label Karya Tulis dan Penelitian. Show all posts

(Tesis) HUBUNGAN FAKTOR-FAKTOR YANG RELEVAN PADA POLA PEMBERIAN ASI IBU PEKERJA (Studi Analisis Verifikatif di Kabupaten Cilacap)

Written By admin on Wednesday, July 24, 2013 | 12:43 AM

HUBUNGAN FAKTOR-FAKTOR YANG RELEVAN 

PADA POLA PEMBERIAN ASI IBU PEKERJA
(Studi Analisis Verifikatif di Kabupaten Cilacap)


  



Oleh:
Naomi Parmila Hesti Savitri
NPM: L2J050608




PROGRAM PASCASARJANA 
UNIVERSITAS PADJADJARAN 
BANDUNG , 2010


ABSTRAK


Peningkatan jumlah wanita pekerja di Kabupaten Cilacap setiap tahun mempengaruhi penurunan tingkat pemberian ASI eksklusif. Beberapa keadaan yang dapat mempengaruhi penurunan pemberian ASI tersebut adalah dukungan suami dan tenaga kesehatan, promosi susu formula, lingkungan kerja, pengetahuan, dan sikap ibu pekerja. Tujuan penelitian adalah menganalisis perbedaan dan hubungan faktor-faktor tersebut di atas di Kabupaten Cilacap. Rancangan penelitian potong silang, dengan total 139 ibu pekerja yang mempunyai bayi usia 7-12 bulan dari tiga wilayah Kecamatan di Kabupaten Cilacap yang dipilih secara acak dan diwawancarai. Analisis data dengan Chi kuadrat, uji Kruskall Wallis, uji  Mann-Whitney, korelasi Eta, dan regresi multinomial.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan yang sangat bermakna terdapat pada dukungan suami dan tenaga kesehatan, promosi susu formula dan lingkungan kerja yaitu pada pemberian makanan prelakteal (p<0,01). Lingkungan kerja mempunyai korelasi cukup kuat dengan pola pemberian ASI (η: 0,641; p<0,01). Lingkungan kerja merupakan faktor dominan yang dapat meningkatkan keberhasilan pemberian ASI saja (eksklusif) dengan OR: 1,369 (CI 95%; 1,1–1,7); dan juga berisiko terhadap pemberian minuman prelakteal dengan OR: 1,338 (CI 95%; 1,1–1,6) p<0,01.

Simpulan pada penelitian ini adalah terdapat perbedaan dukungan suami dan tenaga kesehatan, promosi susu formula dan lingkungan kerja terhadap pemberian makanan prelakteal; terdapat hubungan positif antara dukungan suami dan tenaga kesehatan, promosi susu formula, lingkungan kerja, pengetahuan dan sikap ibu dengan pola pemberian ASI; serta meningkatnya pemberian ASI saja dan risiko pemberian makanan prelakteal sangat dipengaruhi oleh lingkungan kerja.

Kata Kunci: Pola Pemberian ASI, Ibu Pekerja, Dukungan suami dan tenaga kesehatan, Promosi susu formula, Lingkungan Kerja, Pengetahuan dan Sikap Ibu




(KTI)-PENGARUH PENGENCANGAN MUSCULUS TRANSVERSUS ABDOMINIS TERHADAP PENINGKATAN INTENSITAS, FREKUENSI DAN DURASI HIS PADA IBU YANG AKAN BERSALIN

Written By admin on Tuesday, July 23, 2013 | 7:50 PM

Pengaruh Pengencangan Musculus Transversus Abdominis Terhadap Peningkatan
 Intensitas, Frekuensi Dan Durasi His Pada Ibu Yang Akan Bersalin

Di Rsud Prof. Dr. Margono Soekarjopurwokerto



Oleh :
Virgin Norma Fatimah
NPM. D200901023

AKADEMI KEBIDANAN GRAHA MANDIRI CILACAP
Mei 2013


Kesimpulan:

  1. Terdapat pengaruh pengencangan musculus transverses abdominis terhadap peningkatan intensitas his pada ibu yang akan bersalin di RSUD Prof. Dr. Margono Soekardjo, Purwokerto.
  2. Terdapat pengaruh pengencangan musculus transverses abdominis terhadap peningkatan frekuensi his pada ibu yang akan bersalin di RSUD Prof. Dr. Margono Soekardjo, Purwokerto.
  3. Terdapat pengaruh pengencangan musculus transverses abdominis terhadap peningkatan durasi his pada ibu yang akan bersalin di RSUD Prof. Dr. Margono Soekardjo, Purwokerto.
Daftar Pustaka
  • Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta : PT Rineka Cipta.
  • Bennet, et.al. 2003. Mayles A Textbook for Midwives Thirthteen Edition. London, Churchill Livingstone.
  • Carr, Lisa. 2010. Exercise during pregnancy: Is walking enough. Diakses dari http://www.preggibellies.com.au/uploads/kSJbMW3jJhSXSNdqZ4D9D_wLrzZRYx.doc tanggal 14 Maret 2013.
  • Cunningham et.al. 2006. Obstetrri Williams. Jakarta : EGC.
  • Frawley, Helena. 2009. Evidence for Benefit of Transversus Abdominis Training Alone or in Combination With Pelvic Floor Muscle Training to Treat Female Urinary Incontinence: A Systematic Review. Diakses dari http://www.ipts.org.il/_Uploads/dbsAttachedFiles/TA.pdf tanggal 14 Maret 2013.
  • Hikmamekongga. 2010. Persalinan. Diakses dari http://id.shvoong.com/writing-and-speaking/2063232-persalinan/ tanggal 14 Maret 2013.
  • Jones & Bartlett Learning. 2008. Obstetric and Pediatric Pathophysiology. Diakses dari http://books.google.co.id/books?id=YpCAwCI6Hi8C&pg=PA53&lpg= PA53&dq=physiology+of+intensity+of+uterine+contractions&source tanggal 20 Mei 2013.
  • Manuaba, IBG. 2009. Ilmu  Penyakit Kebidanan & Keluarga Berencana untuk Pendidikan Bidan. Jakarta : EGC
  • Mochtar, Rustam. 1998. Sinopsis Obstetri : Obstetri Fisiologi & Patologi. Jakarta: EGC.
  • Prawirorahardjo, Sarwono. 2009. Ilmu Kebidanan. Jakarta : PT. Bina Pustaka Sarwono Prawirorahardjo.
  • Riduwan. 2007. Metode dan Teknik Menyusun Tesis. Bandung : Alfabeta.
  • Sari, Ratna Putri. 2011. IUFD. Diakses dari http://www.scribd.com/doc/48106403/IUFD . 14 maret 2013.
  • Setyan, Anggri. 2012. Kehamilan Serotinus. Diakses dari http://www.scribd.com/doc/89558925/KEHAMILAN-SEROTINUS tanggal 14 Maret 13.
  • Sugiyono. 2010. Statistika untuk Penelitian. Bandung : Alfabeta.
  • Sugiyono. 2011. Statistik Nonparametris. Bandung: Alfabeta.
  • Sweet et.al. 2000. Mayes Midwivery a Textbook for Midwives. Great Britain.
  • Swenson, et.all/ 2009. Basic Human Anatomy. Diakses dari http://www.dartmouth.edu/~humananatomy/part_5/chapter_25.html tanggal 14 maret 2013.
  • Tyldesley, Barbara, et.all. 2009. Muscles, Nerves and Movement : In Human Occupation. Diakses dari books.google.co.id/books?isbn=1405147415 tanggal 14 Maret 2013.
  • Verralls, Sylvia. 2003. Anatomi dan Fisiologi Terapan dalam Kebidanan. Jakarta : EGC.

Hubungan Senam Kegel Terhadap Nyeri Regio Vagina Pada Masa Nifas

Written By admin on Tuesday, July 16, 2013 | 11:51 PM

( Penelitian oleh : Endah Tri Lestari, Untari Fajar Suryani dan Tri susanti)

Hipotesa:

Terdapat hubungan senam kegel terhadap nyeri regio vagina (pada ibu nifas di BPS Ny. Feriatul Rizki Kecamatan Kawunganten Kabupaten Cilacap Tahun 2010).

Sampel :

Populasi dalam panelitian ini ialah semua ibu nifas sebanyak 72 di BPS Ny. Feriatul Rizki Kecamatan Kawunganten Kabupaten Cilacap Tahun 2010.

Rancangan Penelitian :

Penelitian ini menggunakan “Studi Deskriptif asosiatif”, maksud penelitian ini adalah menggambarkan dan menghubungkan percepatan pengurangan nyeri regio vagina dengan senam nifas pada ibu nifas berdasar fakta yang terjadi di lapangan. Pelaksanaan studi deskriptif ini tidak terbatas hanya sampai pada pengumpulan dan penggunaan data, tetapi mancakup pada analisa dan interprestasi data.

Pembahasan:
Berdasarkan uji hipotesis yang pertama didapatkan harga c2Hitung = 34,3. Ternyata harga c2Hitung lebih besar dari Chi kuadrat tabel (34,3 > 3,481), maka Ho ditolak dan Ha diterima, sehingga dapat disimpulkan bahwa “Terdapat percepatan pengurangan nyeri regio vagina dengan senam nifas yang mampu kontrol BAK (pada ibu nifas di BPS Ny. Feriatul Rizki Kecamatan Kawunganten Kabupaten Cilacap Tahun 2010)”.

Senam ini dilakukan di tempat tidur atau matras, gerakannya adalah sebagai berikut :
  1. Posisi tidur terlentang di atas matras atau tempat tidur, tangan lurus di atas kepala, posisi tangan menggenggam kuat. 
  2. Dengan posisi terlentang tangan lurus di atas kepala, posisi tangan menggenggam kuat, kepala diangkat semaksimal mungkin mendekati dada.
  3. Posisi pasien terlentang, dan tangan lurus di atas kepala lalu kaki dibuka selebar mungkin dengan lutut bertemu antara keduanya, pantat diangkat sekuatnya
  4. Dengan posisi pasien terlentang, tangan lurus di atas kepala lalu kaki dibuka selebar mungkin dengan lutut bertemu antara keduanya, pantat diangkat sekuatnya lalu ditambah kepala diangkat semaksimal mungkin mendekati dada.
  5. Kaki lurus dan kedua mata kaki bertemu, telapak kaki difleksikan 90° dan kaki diangkat pelan-pelan ± 20 cm, pinggang ditekan ke matras atau tempat tidur.
  6. Kaki lurus dan kedua mata kaki bertemu, telapak kaki difleksikan 90° dan kaki diangkat pelan-pelan ± 20 cm, pinggang ditekan ke matras atau tempat tidur serta ditambah kepala diangkat semaksimal mungkin mendekati dada.
Senam kegel merupakan suatu latihan otot dasar panggul pubococcygeus. Tujuan utamanya adalah melatih otot-otot dasar panggul, otot-otot vagina, perut, pada saat persalinan pervaginam mengalami peregangan dan kerusakan yang dapat menyebabkan nyeri setelah melahirkan. Latihan ini dapat dilakukan dimana saja, bahkan saat berbaring setelah melahirkan dikamar pemulihan. Mulai berlatih walaupun belum dapat merasakan apa pun di daerah perineal. Dapat dilakukan juga pada saat berkemih, menyusui, atau disetiap posisi nyaman. Caranya, lakukan gerakan seperti menahan buang air kecil, tahan kontraksi 8-10 detik, lepaskan, ulangi beberapa kali (Harian Kompas tanggal 27 Februari 2006).

Simpulan
Berdasarkan latar belakang dan pembahasan dalam penelitian ini maka penulis dapat mengambil simpulan sebagai berikut :
1. Terdapat gambaran 31,25%.
2. Terdapat percepatan pengurangan nyeri regio vagina dengan senam nifas



Hubungan Skin to Skin Contact Terhadap Suhu Tubuh Bayi Baru Lahir

    (riset: Suryanti, Maria Ulfah)

    Uji Hipotesis


1. Uji Hipotesis dari analisa data di atas pada tabel 4.2 bahwa “Terdapat peningkatan suhu tubuh dengan teknik Skin to skin contact pada neonatus aterm di BPS Ny. Misdiyah Atmawati, Desa Grugu Kecamatan Kawunganten Tahun 2010”, dapat ditemukan bahwa harga c2hitung = 25,60. Dalam hal ini dk=1 dan taraf kesalahan yang telah ditetapkan 5% maka harga c2Tabel = 3,481. Ternyata harga c2hitung lebih besar dari c2Tabel (25,60 > 3,481), maka Ho ditolak dan Ha diterima, sehingga dapat disimpulkan bahwa angka kejadian peningkatan suhu tubuh dengan teknik Skin to skin contact adalah tidak sama atau dengan kata lain “Kecenderungan terjadi peningkatan suhu tubuh dengan teknik Skin to skin contact pada neonatus aterm di BPS Ny. Misdiyah Atmawati, Desa Grugu Kecamatan Kawunganten Tahun 2010”.


Pembahasan Hasil Penelitian

Berdasarkan uji hipotesis dari analisa data di atas diperoleh harga c2hitung lebih besar dari c2Tabel (25,60 > 3,481), maka Ho ditolak dan Ha diterima, sehingga dapat disimpulkan bahwa angka kejadian peningkatan suhu tubuh dengan teknik Skin to skin contact adalah tidak sama atau dengan kata lain “Kecenderungan terjadi peningkatan suhu tubuh dengan teknik Skin to skin contact pada neonatus aterm di BPS Ny. Misdiyah Atmawati, Desa Grugu Kecamatan Kawunganten Tahun 2010

Teknik skin to skin contact ini didapatkan lewat kontak kulit ibu dan bayi. Proses penyaluran panas yang terjadi antara ibu dan bayi tersebut yaitu dengan cara menstransfer panas dari tubuh ibu supaya mencapai tubuh bayi. Energi panas mula-mula akan penetrasi ke dalam jaringan kulit dalam bentuk berkas cahaya (dalam bentuk radiasi atau konduksi). Kemudian akan menghilang di daerah jaringan yang lebih dalam berupa panas. Panas tersebut kemudian diangkut ke jaringan lain dengan cara konveksi yaitu diangkut ke jaringan seluruh tubuh melalui cairan tubuh (Gabriel, 2001: 131).

Wiknjosastro (2002:254) menjelaskan bahwa suhu lingkungan yang tidak baik (bayi tidak dapat mempertahankan suhu tubuhnya sekitar 360C – 370C) akan menyebabkan bayi menderita hipertermi, hipotermi dan trauma dingin (Cold Injury).

Suhu normal adalah suhu tubuh yang menjamin kebutuhan oksigen bayi secara individual dapat terpenuhi, pada kulit bayi 36 – 36,50C; pada aksila : 36,5 – 370C pada rektum 36,5 – 370C. Istilah hipotermi secara umum digambarkan sebagai suhu tubuh urang dari 360C (Lubis, 2001).

Menurut Surasmi (2003:42-43) menjelaskan bahwa dalam kandungan, bayi berada dalam suhu lingkungan yang normal dan stabil yaitu 36°C-37°C. Segera setelah lahir bayi dihadapkan pada suhu lingkungan yang umumnya lebih rendah. Perbedaan suhu ini memberi pengaruh pada kehilangan panas tubuh bayi. Selain itu, hipotermi dapat terjadi karena kemampuan untuk mempertahankan panas dan kesanggupan menambah produksi panas sangat terbatas karena pertumbuhan otot-otot yang belum memadai, lemak subkutan yang sedikit, belum matangnya sistem saraf pengatur suhu tubuh, luas permukaan tubuh relatif lebih besar dibanding dengan berat badan sehingga mudah kehilangan panas.

Lubis (2001) menyatakan bahwa mempertahankan suhu tubuh dalam batas normal sangat penting untuk kelangsungan hidup dan pertumbuhan bayi baru lahir, terutama pada bayi prematur. Pengaturan suhu tubuh tergantung pada faktor penghasil panas dan pengeluarannya, sedang produksi panas sangat tergantung pada oksidasi biologis dan aktifitas metabolisme dari sel-sel tubuh waktu istirahat.

Farrer (1999:50) menjelaskan bayi baru lahir memiliki kemampuan terbatas dalam mengatur suhu tubuhnya yang berhubungan dengan lingkungan. Bayi ini akan terancam bahaya hipotermi jika tidak dilakukan tindakan pencegahan. Faktor-faktor yang penting yang harus dipertimbangkan adalah 1) produksi panasnya jelek karena laju metaboliknya rendah; 2) biasanya terjadi perubahan suhu yang dramatis pada lingkungan bayi tersebut khususnya bayi yang dilahirkan dalam ruangan berpendingin yang disesuaikan suhunya demi kenyamanan ibu; 3) bayi lahir dalam keadaan basah sehingga kehilangan panas melalui evaporasi; 4) bayi lahir memiliki permukaan tubuh yang luas jika dibandingkan dengan berat badannya; 5) pusat pengaturan suhunya didalam hipotalamus belum sepenuhnya matur sehingga proses menggigil dan berkeringat masih belum berkembang dengan baik. 


Manfaat Masase Payudara, Manual Expression Dan Rolling Nipple Terhadap Pengeluaran Asi

(riset: SRI PURWATI (KETUA); ENNY FITRIAHADI (ANGGOTA); NUR ALFIYATI (ANGGOTA)

Analisa data untuk  menganalisa rumusan masalah dan hipotesa yang pertama dilakukan penghitungan untuk mengetahui manfaat Teknik Masase Payudara manual expression dan rolling nipple terhadap produksi ASI  pada ibu nifas di di BPS Ny.Garmi Kecamatan Gandrungmangu Kabupaten Cilacap Tahun 2010.
Hipotesis stastiktik
      Ho    :  tidak  terdapat  manfaat manfaat Teknik Masase Payudara manual expression dan rolling nipple  terdapat   produksi ASI pad ibu nifas di BPS Ny.Garmi Kecamatan Gandrungmangu Kabupaten Cilacap Tahun 2010
      Ha    : terdapat manfaat manfaat Teknik Masase Payudara manual expression dan rolling nipple terhadap produksi  ASI  BPS Ny.Garmi Kecamatan Gandrungmangu Kabupaten Cilacap Tahun 2010.
Pembuktian hipotesis dengan uji t.tes of related.
Sebelum uji t.test of related dilakukan uji varian uji t, sebagai beikut :

Tabel Pembantu : 4.1
No
X1
X2
(X1 – X1)
X
(X2 – X2)
Y
(X1 – X1)2

(X2 – X2)2

XY

X2Y2

1.
2.
3.
4.
5.
0,8
0,4
1,3
1,0
0,7
1,3
0,7
1,7
1,0
0,5
- 0,04
- 0 ,44
0,46
0,16
- 0,14
0,26
- 0,34
0,66
- 0,04
- 0,54
0,0016
0,1936
0,2116
0,0256
0,0196
0,0676
0,1156
0,4356
0,0016
0,2916
- 0,0104
0,1496
0,3036
- 0,0064
0,0756
- 0,000703
0,022380
0,092172
0,000040
0,005715

4,2
5,2
0
0
0,452
0,912
0,512
0,119604

0,84
1,04








Uji Hipotesis
Berdasarkan data dan hasil penghitungan, didapat hasil T hitung 0,195 Dalam hal ini dk = n  - 1= 5-1 = 4. Berdasarkan dk =  2,776 dan taraf kesalahan 5 % maka dapat diperoleh T hitung lebih besar dari t tabel 0,195< 2,776), dengan demikian Ha ditolak dan Ho diterima, sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat manfaat Masase Payudara manual expression dan rolling nipple.

Pembahasan Hasil Penelitian
T hitung lebih kecil dari t tabel (0,195< 2,776), dengan demikian Ha ditolak dan Ho diterima, Hasil analisa data dan uji hipotesis yang pertama tidak terdapat manfaat Masase Payudara manual expression dan rolling nipple.

Berdasarkan hasil analisa diatas, hal tersebut tidak sejalan dengan teori yang dikemukakan oleh  Varney ( 1997 : 803 ) menjelaskan bahwa masase payudara dan memerah ASI pada awalnya meningkatkan aliran ASI dengan membersihkan sinus – sinus dan duktus – duktus laktiferus kolostrum pertama yang lengket, selanjutnya membentuk aliran kolostrum yang kurang pekat dengan masase payudara maka akan memberikan rangsangan pada syaraf sensoris yang akan diteruskan ke hipotalomus melalui medulla spinalis yang selanjutnya akan mempengaruhi hipofisis anterior untuk mengeluarkan hormon prolaktin yang berguna untuk memproduksi ASI dan mempengaruhi hipofisis untuk mengeluarkan hormon oksitosin yang berguna untuk mengeluarkan ASI.
Dari hasil penghitungan teori yang dikemukakan oleh Varney tidak ada kesesuaian hal tersebut disebabkan karena faktor-faktor sebagai berikut :
Faktor-faktor itu antara lain 1) faktor responden kurang memadai, jumlahnya yang sedikit. Oleh karena data responden yang kurang sehingga mempengaruhi dari hasil penelitian. 2) Faktor nutrisi ibu yang tidak memenuhi gizi seimbang. Oleh karena faktor ekonomi sehingga makan sedanya, tidak tahu tentang gizi seimbang. Maka akan mengurangi produksi ASI pada ibu. 3) Peralatan yang kurang memenuhi syarat/tidak memadai. Dikarenakan tidak mempunyai alat-alat yang dibutuhkan seperti handuk, baby oil dll. 4) Dari ibu sendiri yang tidak melakukan masase secara rutin. Dikarenakan ibu tidak sempat, sibuk atau tidak mau melakukan masase secara rutin .

Berdasarkan faktor diatas bidan mempunyai tujuan cara teknik dan prosedur sebagai berikut :
Bidan memiliki tujuan agar semua ibu nifas bisa meningkatkan produksi  ASI-nya menjadi lebih banyak ( bertambah 0,2 cc – 0,5 cc) Cara yang digunakan adalah dengan menkontraksikan seluruh bagian payudara dan memberikan rangsangan pada syaraf sensoris yang akan diteruskan ke hipotalamus melalui medulla spinalis yang selanjutnya akan mempengaruhi hipofisis anterior untuk mengeluarkan hormon prolaktin yang berguna untuk memproduksi ASI dan mempengaruhi hipofisis posterior untuk mengeluarkan hormon oksitosin yang berguna untuk mengeluarkan ASI.

Popular Posts

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. AKBID GMC - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website Inspired Wordpress Hack
Proudly powered by Blogger